Bagi jamaah yang baru pertama kali datang ke Tanah Suci, melaksanakan thawaf dan sa’i bisa menjadi pengalaman yang sangat mengharukan sekaligus menantang.
Kondisi Masjidil Haram yang luas, jumlah jamaah yang padat, serta suasana yang berbeda dari biasanya terkadang membuat jamaah bingung atau terburu-buru.
Padahal, thawaf dan sa’i membutuhkan ketenangan serta pemahaman mengenai alurnya.
Dalam panduan resmi Nusuk, thawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran mengelilingi Ka’bah, sedangkan sa’i dilakukan sebanyak tujuh perjalanan antara Safa dan Marwah, dimulai dari Safa dan berakhir di Marwah.
Berikut beberapa kesalahan yang sering dilakukan jamaah dan perlu diperhatikan.
Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi adalah jamaah lupa menghitung jumlah putaran.
Thawaf dilakukan sebanyak 7 putaran.
Karena suasana di sekitar Ka’bah cukup ramai, jamaah terkadang kehilangan hitungan, terutama ketika terpisah dari rombongan.
Hitung setiap putaran dengan tenang.
Jangan hanya mengikuti jamaah di depan.
Gunakan cara menghitung yang mudah diingat.
Jika bersama keluarga, sepakati cara menghitung sejak awal.
Hindari terlalu banyak berbicara selama thawaf.
Fokus pada ibadah, bukan pada kecepatan menyelesaikan putaran.
Sebagian jamaah mencari atau menghafalkan doa khusus untuk setiap putaran thawaf.
Padahal, panduan resmi Nusuk menjelaskan tata cara thawaf dan menganjurkan doa selama thawaf tanpa menetapkan satu doa khusus untuk setiap putaran.
Jamaah dapat berdoa dan berdzikir dengan doa-doa yang baik sesuai kemampuan.
Berdoa dengan khusyuk.
Berdzikir.
Membaca Al-Qur'an jika memungkinkan.
Tidak mengganggu jamaah lain.
Tidak memaksakan diri menghafal bacaan yang belum dikuasai.
Jangan sampai sibuk mencari teks doa hingga kehilangan kekhusyukan.
Hajar Aswad merupakan bagian yang sangat penting dalam thawaf, sehingga banyak jamaah ingin berada sedekat mungkin dengannya.
Namun, kondisi di sekitar Hajar Aswad dapat sangat padat.
Kesalahan yang sering terjadi adalah memaksakan diri menerobos kerumunan, mendorong jamaah lain, atau membuat orang lain tidak nyaman.
Ibadah tidak perlu dilakukan dengan menyakiti atau membahayakan orang lain.
Jika kondisi terlalu padat, ikuti arahan petugas dan pilih cara yang aman.
Mengabadikan momen di Tanah Suci tentu menjadi kenangan yang berharga.
Namun, ketika sedang melaksanakan thawaf atau sa’i, penggunaan handphone secara berlebihan dapat mengganggu konsentrasi dan berpotensi menghambat pergerakan jamaah lain.
Jangan sampai:
Mengejar foto → kehilangan fokus ibadah.
Simpan handphone dengan aman dan gunakan seperlunya.
Karena ingin segera menyelesaikan tujuh putaran, beberapa jamaah berjalan terlalu cepat.
Padahal, kondisi sekitar Ka’bah sangat padat dan jamaah datang dari berbagai usia serta kondisi fisik.
Berjalan terlalu cepat dapat:
Membuat tubuh cepat lelah.
Menyulitkan jamaah lain.
Meningkatkan risiko bertabrakan.
Membuat jamaah kehilangan fokus.
Lakukan thawaf dengan tenang, tertib, dan menyesuaikan kondisi kerumunan.
Thawaf dan sa’i membutuhkan aktivitas fisik, terutama bagi jamaah lansia atau jamaah yang memiliki stamina terbatas.
Jangan memaksakan diri hanya karena ingin mengikuti kecepatan rombongan.
Jika tubuh terasa sangat lelah, pusing, atau tidak nyaman, segera komunikasikan dengan pendamping atau Tour Leader.
Menjaga kondisi tubuh merupakan bagian dari menjaga kelancaran ibadah.
Kesalahan berikutnya adalah salah menghitung jumlah perjalanan antara Safa dan Marwah.
Sa’i dilakukan sebanyak 7 perjalanan, dengan urutan:
Safa → Marwah = 1
Marwah → Safa = 2
Safa → Marwah = 3
Marwah → Safa = 4
Safa → Marwah = 5
Marwah → Safa = 6
Safa → Marwah = 7
Artinya, sa’i dimulai dari Safa dan berakhir di Marwah.
Jangan menghitung berdasarkan jumlah pergi-pulang sebagai satu kali.
Hitung setiap perjalanan dari satu bukit ke bukit lainnya.
Tidak semua jamaah harus berlari ketika melakukan sa’i.
Panduan Nusuk menjelaskan bahwa jamaah laki-laki disunnahkan mempercepat langkah atau melakukan lari kecil pada area yang ditandai dengan dua lampu hijau.
Jamaah perempuan tidak perlu melakukan lari kecil tersebut.
Jadi, jangan memaksakan diri berlari jika kondisi fisik tidak memungkinkan.
Area sa’i cukup luas dan memiliki banyak jalur.
Jamaah yang baru pertama kali datang terkadang bingung menentukan arah.
Padahal, terdapat petunjuk yang mengarahkan jamaah menuju Safa dan Marwah. Panduan resmi Nusuk juga menjelaskan bahwa setelah thawaf terdapat petunjuk di dalam Masjidil Haram menuju area sa’i dan Safa sebagai titik awal.
Perhatikan papan petunjuk.
Jangan hanya mengikuti orang di depan.
Ingat bahwa sa’i dimulai dari Safa.
Jika bingung, tanyakan kepada petugas atau pendamping.
Berada dalam rombongan memang membuat jamaah merasa lebih aman.
Namun, jangan sampai terlalu fokus mencari anggota rombongan hingga mengabaikan ibadah.
Jika terpisah:
Jangan panik.
Cari tempat yang aman dan hubungi:
Tour Leader.
Muthawwif.
Pendamping jamaah.
Nomor kontak travel.
Sebelum berangkat menuju masjid, sebaiknya setiap jamaah sudah mengetahui meeting point dan lokasi hotel.
Saat thawaf dan sa’i, jamaah perlu membawa barang seminimal mungkin.
Barang yang terlalu banyak dapat membuat jamaah tidak nyaman bergerak.
Sebaiknya:
Simpan barang penting dengan aman.
Jangan membawa uang tunai berlebihan.
Gunakan tas kecil yang mudah dijaga.
Hindari meletakkan handphone sembarangan.
Jangan meninggalkan barang tanpa pengawasan.
Masjidil Haram merupakan tempat yang sangat ramai dengan jamaah dari berbagai negara.
Karena itu, penting untuk menjaga adab dan tidak mengganggu orang lain.
Hindari:
Mendorong.
Menyela barisan.
Berhenti mendadak di jalur ramai.
Berjalan berkelompok terlalu lebar.
Berbicara terlalu keras.
Menghalangi jalan jamaah lain.
Kenyamanan ibadah bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga menghormati jamaah lainnya.
Sebelum memulai ibadah, pastikan:
☐ Sudah memahami urutan thawaf dan sa’i.
☐ Mengetahui jumlah putaran thawaf.
☐ Mengetahui jumlah perjalanan sa’i.
☐ Mengetahui thawaf dimulai dari area Hajar Aswad.
☐ Mengetahui sa’i dimulai dari Safa.
☐ Mengetahui sa’i berakhir di Marwah.
☐ Menyimpan handphone dengan aman.
☐ Mengetahui lokasi hotel.
☐ Mengetahui meeting point.
☐ Menyimpan nomor Tour Leader/Muthawwif.
☐ Tidak membawa barang berlebihan.
☐ Memastikan kondisi tubuh cukup fit.
Jamaah yang baru pertama kali umrah sangat wajar jika merasa gugup atau bingung.
Jika lupa hitungan, kehilangan arah, atau tidak memahami alur, jangan panik.
Berhenti sejenak di tempat yang aman, tanyakan kepada pendamping atau petugas, dan ikuti arahan yang diberikan.
Kementerian Haji dan Umrah Saudi juga menyediakan pusat layanan 1966 yang beroperasi sepanjang waktu dan memberikan dukungan dalam lebih dari 11 bahasa untuk jamaah dan pengunjung.
Thawaf dan sa’i bukan sekadar aktivitas berjalan mengelilingi Ka’bah atau berjalan antara Safa dan Marwah.
Keduanya merupakan bagian penting dari rangkaian ibadah umrah yang perlu dilakukan dengan pemahaman, ketenangan, dan menjaga adab.
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari antara lain:
❌ Salah menghitung putaran thawaf.
❌ Terlalu memaksakan diri mendekati Hajar Aswad.
❌ Terlalu sibuk mengambil foto.
❌ Berjalan terlalu cepat.
❌ Salah menghitung sa’i.
❌ Mengira semua jamaah harus berlari saat sa’i.
❌ Tidak mengetahui arah Safa dan Marwah.
❌ Panik ketika terpisah dari rombongan.
Dengan memahami tata cara dan mempersiapkan diri sejak sebelum berangkat, jamaah dapat menjalankan thawaf dan sa’i dengan lebih tenang, tertib, nyaman, dan khusyuk.
Catatan: Artikel ini merupakan informasi umum. Untuk tata cara ibadah yang berkaitan dengan perbedaan pendapat fikih atau kondisi khusus jamaah, ikuti bimbingan ustaz/muthawwif dan manasik dari penyelenggara perjalanan.
Persiapan yang baik membuat perjalanan ibadah terasa lebih tenang.
Azana Tour siap mendampingi jamaah dalam mempersiapkan perjalanan menuju Baitullah, mulai dari program umrah, manasik, persiapan keberangkatan, hingga pendampingan selama perjalanan.
Siapkan ilmunya, jaga fisiknya, dan tenangkan hatinya. Saatnya menuju Baitullah bersama Azana Tour.
Konsultasikan rencana ibadah anda bersama tim kami, gratis tanpa syarat.
Konsultasi Sekarang